Tulang Rusuk vs Tulang Punggung - Liliana Halim Tulang Rusuk vs Tulang Punggung % %
Diary,  Motivasi

Tulang Rusuk vs Tulang Punggung

Udah lama pernah baca tulisannya kak @adelladellaide tentang tulang punggung dan tulang rusuk di Tumblr-nya, tiba – tiba ada ide mau ikutan bahas tentang tulang punggung karena saya merupakan anak pertama alias anak paling besar dari empat bersaudara, adik kedua saya lelaki sudah dua tahun ini masih molor untuk menyelesaikan skripsinya, adik ketiga saya perempuan masuk tingkat pertama perkuliahan di salah satu Universitas Negeri di Karawang sedangkan adik keempat saya juga perempuan dan sekarang masuk sekolah menengah kejuruan di salah satu kota Karawang juga. Saat ini saya dan calon saya sedang berusaha mengumpulkan pundi – pundi uang sebagai modal pernikahan kami, karena kami berdua anak paling besar dan merupakan tulang punggung di keluarga kami. Jadi tolong jangan tanya kami kapan nikah? Karena niatan sedari dulu sudah ada, tetapi prioritas kami tepatnya saya sih mau menunggu sampai adik kedua saya minimal menuntaskan kuliahnya yang tak kunjung selesai sampai saat ini. 🙁

Bagaimana rasanya jadi tulang punggung keluarga, apakah sedih atau merasa terbebani? Nggak sih, biasa aja karena saya sudah diusahakan untuk sekolah sampai lulus dan mendapat gelar Sarjana oleh orang tua saya. Papa saya yang sudah meninggal terkena kanker usus sewaktu saya kelas 1 tingkat SMA (tahun 2008), menjadikan mama saya harus banting tulang untuk menyekolahkan keempat anaknya dan kini saat saya sudah lulus serta dapat pekerjaan tentunya menjadi tanggung jawab saya untuk membiayai perekonomian keluarga. Dan saya tidak pernah menganggap bahwa ini adalah suatu beban, ini merupakan tanggung jawab saya agar ketiga adik saya juga bisa merasakan duduk di bangku perkuliahan. Mama saya yang hanya memiliki usaha warung kecil – kecilan, bersyukurnya mampu membiayai kami semua hingga sampai tahap ini. Tidak ada yang diinginkan orang tua selain anaknya bisa hidup mandiri dan mendapat pekerjaan yang layak. Karena orang tua saya menganggap sukses tidak melulu dinilai melalui materi.

Baca Juga :  Fenomena Sugar Relationship dan Kaitannya dengan “Pelakor”

Dalam hati sempat ada kecemasan apakah saya bisa untuk segera menikah mengingat umur saya yang semakin bertambah, tetapi mama saya tidak pernah memaksa saya untuk segera menikah dan meyakinkan jika memang belum siap tidak apa. Karena mama tahu, kalau saya dan calon saya harus membantu perekonomian di keluarga masing – masing. Sebenarnya bisa saja saya memutuskan untuk menikah di tahun ini, tetapi adik kedua saya itu masih belum lulus kuliah dan belum mendapat pekerjaan sehingga semuanya masih bertumpu di saya.

Saya harus membagi beberapa pos untuk tabungan menikah dan juga biaya kuliah kedua adik saya (karena yang satu tinggal menyelesaikan skripsi). Mama sering menanyakan kepada adik kedua saya itu apakah tidak kasihan kepada saya, melihat kakaknya perempuan mau menikah belum bisa karena masih harus mengumpulkan uang, kenapa tidak ikut membantu juga? Susah. Mungkin adik lelaki saya itu tidak tahu bagaimana rasanya berjuang. Saat saya kuliah di Bekasi dulu, saya harus menghemat uang jajan dan saya tidak pernah ke mall kecuali saya diajak mantan saya atau ada uang lebih, hehe. Pernah saya bertahan hidup hanya dengan uang 70 ribu rupiah untuk makan dan ongkos pulang pergi Karawang – Bekasi – Karawang. Bersyukurnya pada saat tingkat dua, saya mendapat seorang teman sekaligus sahabat dan orang tuanya yang super baik tidak terhingga (semoga Tuhan membalas jasa kebaikan kalian), duh sedih sih kalau ingat, kalau tidak ada mereka rasanya saya mungkin tidak akan makan ayam, makan dengan gizi tercukupi. Terima kasih banyak untuk Mama Papa Om Yuly. 🙂

Baca Juga :  13 Lirik Lagu Official Song Asian Games 2018 + Link Video Resmi

Balik ke tulang punggung, saya harapkan tahun depan impian kami berdua bisa segera tercapai, semoga tulang punggung bisa bersatu dengan tulang rusuknya, semoga kami bisa menikah dengan tabungan yang sudah kami kumpulkan. Doakan yaaa, semoga kami juga selalu dimudahkan dan diberi rejeki agar keinginan kami berdua ke jenjang yang lebih serius disegerakan. Saya pun berharap semoga ketiga adik saya bisa menyelesaikan sekolahnya hingga mendapatkan gelar dan membanggakan orang tua serta keluarga kami. Untuk papa dan mama, tidak ada yang bisa saya berikan selain ini semua, terima kasih sudah membesarkan lili sampai saat ini, jasa kebaikan dan kasih sayang papa dan mama tidak terhingga sampai kapanpun.

Baca Juga :  [Motivasi] Ketika Kita Mulai Merasa Putus Asa dan Kehilangan Tujuan Hidup
Source : tumblr @adellinafitriyani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *