Tentang Etika Profesi Penerjemah Lisan (Interpreter) - Liliana Halim Tentang Etika Profesi Penerjemah Lisan (Interpreter) % %
Uncategorized

Tentang Etika Profesi Penerjemah Lisan (Interpreter)

        Etika Profesi yang dijelaskan : Penerjemah Lisan (Interpreter).

 

       Penerjemah dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” adalah orang yang mengalihbahasakan atau bisa juga disebut juru terjemah. Pada umumnya profesi penerjemah banyak sekali namun yang saya jelaskan hanya penerjemah lisan atau interpreter. Sebelum membahas lebih lanjut disini saya akan menjelaskan perbedaan translator dengan interpreter. Penerjemah tulisan / translator memiliki kesempatan untuk mencari beberapa kata atau kalimat, sedangkan bagi penerjemah lisan / interpreter mereka biasanya melakukan penerjemahan secara spontan, mungkin hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mencari beberapa kata maupun kalimat. Dan mungkin juga hasil terjemahan interpreter tidak seakurat hasil terjemahan translator. Karena memang translator yang saya tahu biasanya dapat menjelaskan terjemahan secara jelas dan akurat karena mereka tidak melakukan terjemahan secara langsung (lisan).

Baca Juga :  Kasus Pelanggaran Hak Cipta
 

       Disini pentingnya sebagai interpreter harus benar-benar bersikap professional dengan memberikan hasil terjemahan yang baik dan benar serta dapat dipahami dengan baik oleh kedua belah pihak. Kedisiplinan sangat berlaku untuk penerjemah lisan seperti pelafalan dan nada suara yang tegas, tidak bersikap malu-malu atau kurang percaya diri karena tentu akan mengganggu pihak yang membutuhkan jasa profesi mereka.

       Dalam perkembangannya, penerjemah juga berperan dalam bidang sosial, politik, pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu, penerjemah memiliki tempat yang strategis dalam kehidupan masyarakat. Sebagai bidang yang makin diminati, penerjemah menuntut adanya kode etik profesi tersendiri untuk melindungi penerjemah. Dibawah ini contoh Kode Etik Profesi Penerjemah yang dibuat oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) :

Baca Juga :  KUHP BUKU II " Kebendaan "
 
  1. Etika untuk menjunjung tinggi dan menerapkan asas-asas Pancasila.

    Sebagai contoh walaupun pemakai jasa profesi berasal dari Amerika tetapi tidak mesti penerjemah tersebut bersifat melebih-lebihkan negara Amerika dan mungkin malah menjelek-jelekan negara Indonesia. Nah sifat itu tentu tidak menjunjung negara Indonesia.

     
  2. Etika untuk memiliki perilaku etis yang patut dan praktis bisnis yang sehat.

    Sebagai contoh sebagai interpreter harus memiliki sifat yang sopan terhadap pihak lain, tidak semena-mena terhadap pihak lain karena mengganggap penerjemah-lah yang paling pintar. Untuk praktik bisnis yang sehat contohnya adalah penerjemah harus menolak menerjemahkan jika terjemahan tersebut diduga dapat merusak nilai-nilai budaya bangsa Indonesia maupun negara lain.

     
  3. Etika untuk tidak memanipulasi pesan yang terkandung di dalam bahasa sumber.

    Sebagai contoh penerjemah tidak boleh merekayasa hasil terjemahan dan harus sesuai dengan bahasa sumber aslinya.

     

    Referensi :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *