Fenomena Sugar Relationship dan Kaitannya dengan “Pelakor” - Liliana Halim Fenomena Sugar Relationship dan Kaitannya dengan “Pelakor” % %
Diary,  Motivasi

Fenomena Sugar Relationship dan Kaitannya dengan “Pelakor”

Hai kembali lagi menulis akhirnya setelah beberapa bulan stuck tidak ada ide dan malas untuk memulai. Di tulisan ini saya mau membahas fenomena sugar relationship dan didefinisikan sebagai hubungan antara sugar daddy yang memberikan dukungan finansial kepada sugar baby (Seeking.com). Karena belakangan sugar relationship ini banyak diperbincangkan oleh netizen di Twitter (termasuk saya hahaha) dan sempat jadi trending topic juga di Twitter.

Dikutip dari kumparan istilah sugar daddy sebenarnya berasal dari kisah seorang pengusaha gula kaya Amerika yang menikahi gadis 24 tahun lebih muda. Dan yang dimaksud sugar baby sendiri adalah perempuan muda yang dipacari atau menjadi wanita simpanan pria yang lebih tua dengan tujuan mendapatkan uang atau hanya bersenang – senang.

Dewasa ini banyak sekali wanita yang menjadi sugar baby dan erat kaitannya dengan “pelakor” demi mengikuti tren maupun menjadi sebuah kesenangan yang menurut saya sih sia – sia. Tidak hanya itu saja, beberapa wanita yang menjadi sugar baby bahkan mereka tidak segan untuk memberikan harga dirinya pada lelaki hidung belang karena terbuai dengan “uang” mungkin untuk menghidupi dirinya sendiri ataupun menjadi sumber keuangan si sugar baby. Awalnya sih jalan bareng kemudian minta dibeliin ini itu, akhirnya minta dinikahi?

Baca Juga :  Trip to Jogjakarta | Pulang ke Karawang - The End

Ok disini bukan bagian saya  untuk mengomentari pekerjaan tersebut, karena setiap orang memiliki pilihan hidupnya masing – masing, yang saya tahu hal tersebut adalah salah dan tidak dibenarkan. Apalagi jika pria yang menjadi sugar daddy tersebut sudah memiliki anak dan istri lalu mengorbankan semuanya hanya demi kesenangan semu. Tentu tidak semua orang memiliki pemikiran dan bisa menghadapi situasi seperti ini.

Dilansir dari laman kumparan, kurangnya perhatian orang tua, kekosongan sosok ayah, rasa ingin disayang menjadi pemicu seorang wanita menjadi sugar baby. Para sugar daddy yang sudah punya anak istri ini pernah mikir ga sih bahwa yang mereka lakukan adalah kesalahan besar, yang mereka lakukan ga ada baik-baiknya. Kenapa kalian harus mengorbankan semuanya demi kesenangan semu dan wanita yang tidak layak kalian perjuangkan?

Ah sudahlah, semoga untuk para lelaki yang saat ini sedang tertutup mata hatinya segera dibukakan agar terlihat apa saja perjuangan yang sudah dilakukan sang istri. Untuk para sugar baby yang saat ini berstatus menjadi wanita simpanan, tidak pernahkah kalian bercita – cita untuk berumah tangga dengan lelaki yang kalian anggap pantas untuk dinikahi kemudian memiliki kehidupan yang bahagia dengan suami yang sepenuhnya mencintai kalian, kenapa kalian harus merebut hak yang bukan menjadi milik kalian, menjalani kehidupan semu? Apakah kalian sudah kehilangan akal? Come on, hidup kalian masih panjang daripada kalian merampas yang bukan milik kalian lebih baik mencari dan berusaha di jalan yang benar.

Baca Juga :  Pengalaman Klaim Kacamata dengan BPJS Kesehatan

Memang bukan kapasitas saya untuk menulis dan membahas mengenai hal ini karena saya pribadi belum menikah, tetapi ada baiknya untuk para suami dan istri yang saat ini sedang dilanda masalah komunikasikan apa yang ada dipikiran atau dialami masing – masing, milikilah sikap terbuka dan transparan sehingga pasangan kita pun bisa memahami apa yang sedang dihadapi, jangan sampai mencari kesenangan di luar dan lupa bahwa kalian memiliki keluarga yang harus diurus. Karena komunikasi dan komitmen untuk saling setia adalah salah satu kunci untuk keharmonisan rumah tangga. Hehe, maaf kalau salah soalnya belum pengalaman wkwk.

Dan satu lagi tips untuk para istri jika merasa ada yang salah dengan suami atau sebaliknya, sebaiknya tanyakan langsung secara baik – baik kenapa sekarang berubah dan tanyakan apa maunya. Jika sebuah hubungan masih bisa diperbaiki, perbaikilah bersama dan jika memang sudah tidak bisa diperbaiki ya mungkin jalan keluarnya lebih baik berpisah, tetapi mencari pasangan baru bukan berarti hubungan jadi lebih mudah ingat kita harus mengenal dari awal lagi.

Baca Juga :  [Motivasi] Dimanakah Letak Kebahagiaan Sesungguhnya? | Jangan Lupa Bersyukur :)

Kalau kata kak Alit “rasa bosan sama pasangan itu manusiawi, kadang muncul orang yang kamu anggap lebih tapi itu cuma ilusi yang diciptakan oleh rasa bosanmu terhadap pasangan, orang yang kamu anggap lebih ini-itu tadi hanyalah lebih baru.” Janganlah meminta kesempurnaan pasangan jika kita sendiri belum bisa memberikan yang terbaik. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk pembaca sekaligus mengingatkan saya ketika berumah tangga nanti. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *