Distribusi pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia khususnya kota Karawang - Liliana Halim Distribusi pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia khususnya kota Karawang % %
Finansial,  Review

Distribusi pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia khususnya kota Karawang

Karawang yang dikenal sebagai salah satu daerah sentra produksi pangan yang mampu memenuhi kebutuhan beras bukan hanya tingkat propinsi bahkan tingkat nasional. Tapi ternyata masih banyak warga Karawang yang kesulitan dan masih tidak mampu untuk membeli beras, hal ini bertolak belakang dengan predikat yang disandang Kabupaten Karawang sebagai Lumbung Padi.

Kemiskinan itu bukan sekedar istilah umum yang berkembang di Karawang, kemiskinan relatif yang muncul dan juga dapat terlihat jelas khususnya pasca krisis ekonomi yang melanda negeri ini, tingginya angka pengangguran akibat perusahaan yang menutup kegiatan usahanya dipercayai menjadi sumber utama persoalan kemiskinan itu. Disisi lain kemiskinan absolut menjadi semakin bertambah, mereka yang tadinya mampu memenuhi kebutuhan dasar menjadi tidak mampu berbuat banyak selain menunggu bantuan dari pemerintah.

Secara fisik pembangunan di Karawang tampaknya terus mengalami peningkatan, dan itu pun terjadi di Kota (atau kawasan dekat perkotaan), masyarakat di desa tampaknya sama sekali tidak mengerti dan memahami bahkan sama sekali tidak menikmati indahnya pembangunan didaerahnya. Distribusi pendapatan masyarakat yang terjadipun sama sekali tidak seimbang, aliran pendapatan dari desa menuju kota sangat besar dibandingkan sebaliknya, hal ini menyebabkan mengapa kota menjadi semakin mewah dengan pembangunan sementara desa sama sekali sulit (jika tidak bisa dianggap mampu untuk membangun) untuk berubah.

Baca Juga :  A thread tentang pelayanan dokter BPJS dengan suspect DBD

Masyarakat desa dianggap demikian lugu dengan kondisi lingkungannya, sedikit sekali temuan dan inisiatif serta gagasan yang dapat berkembang dan mampu menciptakan potensi dan keunggulan komparatif, sebagian kecil contohnya adalah desa yang memiliki potensi pertanian yang luas (sebagian besar desa di Karawang memilikinya) tetapi pada kenyataannya masyarakat tidak mampu menjadikan potensi tersebut sebagai keunggulan bersaing dengan desa yang justeru tidak memiliki potensi tersebut, telah banyak kejadian yang mencatat bagaimana para petani menuntut perbaikan kesejahteraan disektor pertanian dan hal itu terus berlangsung hingga kini.

PDRB Perkapita

lndikator yang dipakai untuk menggambarkan tingkat kemakmuran masyarakat secara makro adalah pendapatan perkapita (percapita income). Semakin tinggi pendapatan yang diterima penduduk disuatu wilayah maka tingkat kemakmuran di wilayah yang bersangkutan dapat dikatakan bertambah baik. Oleh karena pendapatan faktor produksi dan transfer yang mengalir keluar (transfer out) serta pendapatan faktor produksidan transfer yang masuk (transfer in) yang menjadi komponen penghitungan pendapatan regional belum dapat dihitung maka yang disajikan adalah PDRB perkapita.

Baca Juga :  Pengalaman menggunakan Jasa Pengiriman JTR (JNE Trucking)

PDRB perkapita atas dasar harga berlaku menggambarkan besamya nilai tambah domestik bruto perpenduduk secara nominal, sedangkan PDRB perkapita atas dasar konstan berguna untuk mengetahui nitai tambah nyata serta pertumbuhan nyata perkapita. Angka ini diperoleh dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Tabel dibawah ini menyajikan PDRB Perkapita ADH Berlakutahun 2004-2008.

PDRB perkapita Kabupaten Karawang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dari jumlah penduduk sebesar 2.028.143 jiwa pada tahun 2008, PDRB perkapita ADH berlaku Kabupaten Karawang sebesar Rp.17.619.482,63 mengalami peningkatan sebesar 14,33 persen. Kendati demikian peningkatan PDRB perkapita diatas masih belum menggambarkan secara rill kenaikan daya beli masyarakat Kabupaten Karawang secara umurn, karena PDRB perkapita yang dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku masih mengandung faktor inflasi yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

Baca Juga :  FinTech: Inovasi Keuangan di Era Digital (Investasi Peer to Peer Lending KoinWorks Mulai Rp 100 Ribu)

Untuk memantau perkembangan daya beli masyarakat secara riil dapat digunakan PDRB perkapita yang dihitung dari PDRB atas dasar harga konstan. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa PDRB atas dasar harga konstan tahun 2008 sebesar Rp.8.654.636,09 mengalami peningkatan sebesar 7,63 persen bila dibandingkan dengan tahun 2007.

Sumber :

  1. Karawang Update blog
  2. Situs Resmi Kab Karawang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *