A thread tentang pelayanan dokter BPJS dengan suspect DBD - Liliana Halim A thread tentang pelayanan dokter BPJS dengan suspect DBD % %
Diary,  Kesehatan,  Review

A thread tentang pelayanan dokter BPJS dengan suspect DBD

Jadi hari sabtu kemarin (tanggal 21 Juli 2018) saya disuspect DBD oleh salah satu dokter di klinik, selain pusing yang tak kunjung hilang, demam, mual, badan linu dan juga ada bintik merah di tangan dan kaki puncaknya di hari sabtu malam itu bintik merah mulai terlihat dan mama menyangka sepertinya saya terkena campak kembali, tetapi dokter mengatakan itu DBD jadi dokter tersebut menyarankan saya untuk segera periksa darah ke IGD salah satu RS karena waktu itu adalah hari sabtu dan sudah jam 20.00 malam. Saya pun diberi rujukan dan memilih salah satu RS swasta di daerah Karawang yang tentunya bekerja sama dengan BPJS. Sesampainya disana, saya langsung masuk ruangan IGD dan menceritakan apa saja gejala yang saya rasakan kemudian perawat mengecek suhu badan saya, mama saya diminta untuk melengkapi pendaftaran.

Ini kira-kira kenapa ya???
Bintik – bintik merah per beberapa jam

Tidak lama setelah itu dokter pun datang, beliau juga menanyakan kembali gejala yang saya rasakan lalu menanyakan apakah sudah diperiksa darahnya, saya menjelaskan bahwasanya saya dirujuk oleh klinik untuk cek darah disini, setelah itu beliau mengatakan “suhunya normal ya 36,5, demam juga baru kemarin, saya kasih obat aja dulu ya, tidak perlu cek darah” saya coba meminta untuk cek darah saja tidak perlu dirawat tetapi dokternya bersikukuh tidak mau akhirnya saya pun kembali ke rumah dengan membawa 3 obat (Paracetamol, Ondosentron, Cefixime). Oh iya tapi dokter sempat bilang, jika ada apa-apa atau tambah parah silakan datang kembali kesini tanpa perlu surat rujukan. (((Ya ogahlah w udah ditolak pain lagi datang yaa khan?)))

Baca Juga :  Sharing Pacaran Beda Agama (Buddha vs Kristen)

Di hari minggu saya kadang merasa sehat dan kadang lemas, mual muntah masih tetap ada. Bintik merah bertambah di bagian paha dan lengan sebelah kanan. Saya tetap berusaha makan dan minum jus jambu instan (yang akhirnya saya muntahkan juga). Sampai di hari senin, saya merasa masih tidak enak badan dan akhirnya saya izin untuk tidak pergi ke kantor. Kemudian saya meyakinkan diri untuk cek darah ke klinik saja sembari minta surat keterangan sakit. Daaan apa yang saya dapatkan?

Dokter di klinik ini berbeda orang dengan yang memvonis saya waktu itu akhirnya saya ceritakan kembali dari awal kronologisnya dan saya berkata bahwa saya ingin cek darah disini untuk memastikan saja saya terkena DBD atau tidak sesuai instruksi dokter A (sebut saja A ya) di hari sabtu karena pihak IRS tidak mau untuk mengamil darah saya L, Saya pun berkata bahwa saya mau minta surat keterangan sakit karena nyatanya hari ini saya masih tidak enak badan dan saya tidak minta ketika di IGD. Dokter lelaki ini mengatakan sesuai prosedurnya tidak bisa karena yang memberikan obat disana jadi saya tidak bisa keluarkan surat keterangan sakit. Yasudah, saya pasrah jika harus cuti.

Dokter pun memperbolehkan saya untuk cek darah disana dan beliau juga menyebut-nyebut “gratis” dengan nada agak ngeselin, seakan saya tidak mampu untuk bayar “iya boleh kalau mau cek darah aja, gratis kok disini” – kata dokter tersebut, kemudian saya ke ruang lab dan setelah menunggu sekitar 5 menit hasilnya keluar dan trombosit saya normal (326,000) saya diminta untuk memberikan hasilnya ke dokter, kemudian beliau bilang nih gapapa hasilnya bagus dan normal.

Baca Juga :  Ceng Beng 2018 | Vihara Borobudur Medan

Mama saya coba bertanya tapi ruam dan bintik ini kenapa ya dok? Beliau hanya melihat dan berkata bukan DBD, selain itu mama saya juga konsul kalau mual dan muntahnya kenapa dok? Dokter tersebut mengajak kami bercanda mungkin yaa, dengan muka malas menanggapi dokter tersebut berkata “ga punya uang juga bisa mual bu, dicium orang juga mual, kanker (kantong kering) juga bisa mual”, pokoknya semua hal yang tidak related dengan kesehatan dokter tersebut ucapkan tetapi dengan nada seperti menghina kami. Disini saya sudah merasa males maksimal, sudah beberapa kali berobat ke klinik ini tetap saja pelayanan dokternya terasa kurang. Tetapi sangat mudah untuk memberi surat rujukan loh. Bukannya itu menyalahi aturan, seharusnya pasien yang dapat ditangani terlebih dahulu ditangani di faskes 1 lalu jika pihak klinik tidak sanggup baru diberikan rujukan untuk ke rumah sakit.

Padahal sebagai karyawan swasta yang merasa gajinya dipotong tiap bulan untuk premi BPJS (1% pribadi dan 4% dari perusahaan, cmiiw) dan ikut bergotong royong dengan cara subsidi silang saya mempunyai hak untuk berobat dan konsultasi secara baik-baik juga bukan? Saya memang agak kapok untuk pergi ke klinik ini karena jujur pelayanannya yang agak malesin. Jika memang sesuai SOP saya tidak diperbolehkan cek darah kenapa klinik menyarankan saya untuk ke IGD padahal mama saya sudah bertanya apakah harus hari ini langsung ke IGD? Kemudian penjaga di klinik tersebut berkata “Iyalah Bu, kan sakitnya sekarang.” Apakah harus buat asuransi kesehatan pribadi saja daripada dapat perlakuan seperti ini terus menerus atau lebih baik ganti klinik? Karena cerita dari mama, klinik beliau dokternya oke tetapi  jam 18.00 ke atas sudah tutup juga di hari sabtu minggu libur. L

Baca Juga :  [Motivasi] Latihan Kebaikan agar Dunia Semakin Indah

Sekian trit mengenai pelayanan BPJS, apakah ada teman-teman yang pernah mengalami hal seperti ini? Atau sebaliknya? Karena sepengetahuan saya, teman saya tidak dipersulit karena beliau memakai asuransi dari pihak lain. Tanpa ada maksud mendiskreditkan BPJS, tulisan ini murni ditujukan untuk pelayanan dokter yang asal – asalan. Semoga ke depannya tetap dilakukan perbaikan dalam pelayanan di setiap tingkat faskes. Jaga kesehatan selalu, karena kesehatan tidak ternilai harganya J

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *